Date: 08-08-2020 Digital Publication Services : OSREL | JABM | JAM | ABMR | ABMCS

ANALISIS PENGGUNAAN ALTMAN Z-SCORE DALAM MEMPREDIKSI POTENSI KEBANGKRUTAN UNTUK MENGHADAPI PERUBAHAN LINGKUNGAN BISNIS PADA PERBANKAN GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE TAHUN 2010-2014

Detail
Author Irawati
Category Manajemen Perbankan

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji prediksi kebangkrutan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan menggunakan metode Altman Z-score dapat melihat seberapa besar prediksi kebangkrutan diperusahaan perbankan periode 2010-2014. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan bank yang berada di Bursa Efek Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah model prediksi kebangkrutan Altman Z-score, dengan menggunakan 4 variabel yang mewakili rasio likuiditas X1, profitabilitas X2 dan X3, aktivitas X4, dengan menggunakan rumus Z-score = 6,56X1 + 3,2X2 + 6,72X3 + 1,05X4. Dengan kriteria penilaian Z-Score > 2,9 dikategorikan perusahaan dalam kondisi sehat. 1,23 < Z-Score < 2,9 berada di grey area sehingga kemungkinan terselamatkan dan kemungkinan bangkrut sama besarnya tergantung dari keputusan kebijaksanaan manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan. Z-Score < 1,23 perusahaan dikategorikan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi sehingga kemungkinan bangkrutnya sangat besar. Selama Periode pengamatan menunjukkan bahwa data penelitian sebanyak 5 bank merger dan 5 bank tidak merger yang go public ada beberapa yang berada dalam keadaan bangkrut. Tahun 2010 kondisi bank merger yang mengalami kebangkrut mencapai 60% dan 40% perusahaan pada kondisi grey area. Tahun 2011 perusahaan bangkrut mencapai 80% hingga tahun 2012, sedangkan pada kondisi grey area untuk tahun 2011 sebesar 20% hingga tahun 2012, kemudian tahun 2013 angka kebangkrutan sebesar 40% hingga tahun 2014 dan grey area tahun 2013 sebesar 40% hingga tahun 2014. Selama periode 2010-2014 perusahaan yang melakukan merger tidak satupun yang berada pada kategori perusahaan sehat. Sedangkan pada perusahaan perbankan yang tidak melakukan merger terdapat satu perusahaan yang pernah berada pada kategori sehat pada satu periode yaitu tahun 2011. Perusahaan diprediksi mengalami kebangkrutan pada tahun 2010 sebesar 60%, namun pada tahun 2011,2012 dan 2013 sebesar 40%, tahun 2014 kebangkrutan sebesar 60%.Tahun 2010 perusahaan yang berada pada kondisi grey area sebesar 40% hingga tahun 2011, kemudian tahun 2012 sebesar 60% hingga tahun 2013, namun tahun 2014 sebesar 40%.